Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Jadi?

Aku rasa aku tidak salah dengar atau sekedar berkhayal saat dia bilang "tunggu! tan, tunggu!". Oh yah, sayangnya aku mengabaikannya dengan begitu mudah. Aku lebih fokus pada api yang berkobar dalam hatiku pada orang yang ada didepanku itu. Masalah kecil yang entah kenapa menumpuk terus-menerus hingga jadi masalah yang besar. Yang aku sendiri merasa tak sanggup untuk membereskannya. Kemarin. Hari ini aku sudah kembali jadi diriku yang biasanya. Meski beberapa hari lalu banyak sekali titik-titik noda yang hinggap dilembar kertasku. Kini sudah hilang semua. Dan entah bagaimana, aku menunggu esok. Aku ingin melihatnya lagi.

Sejuta Warna

Kadang lucu ya, Kita bisa ketawa lepas gitu aja sama orang yang sebelumnya ga pernah terpikirkan bakal ada dihidup kita. Orang yang bisa dengan mudah jadi 'moodbooster' buat kita tanpa dia tau. Orang yang tanpa kita sadari jadi yang paling kita cari kalau kita lagi butuh, senang, sedih, segalanya. Dia harus dan pasti jadi yang pertama kali kita kasih tau. Lebih lucu lagi, Ketika kita bisa ketawa bareng dihal yang sama tanpa perlu ngejelasin panjang-lebar. Tanpa perlu banyak basa-basi kalau mau ketemuan. Tanpa perlu takut malu atau takut dia menjauh kalau tau watak asli kita yang sengaja kita tutupin. Yang entah gimana caranya bisa kebongkar kalau bersama dia. Hidup ini lucu, Sejuta warna menghiasi kanvas hati yang mudah robek ini. Warna yang salah satunya berkat orang-orang tadi atau orang itu yang berhasil bikin hari-hari kita jadi lebih menyenangkan. Terimakasih.

:)

Halo rindu, Ku rasa ini telah berjalan lebih dari satu minggu sejak dia pergi, Ya, pergi meninggalkan jarak diantara aku dan dia waktu itu. Sampai hari ini aku masih disibukkan dengan tumpukan2 kertas bertinta hitam yang selalu menghantui kala bangun dan tidurku. Dua hari lalu, aku terlambat membuka mata hingga aku tidak dapat mengikuti kelas tambahan yang seharusnya aku ikuti untuk perbaikan nilaiku di semester lalu. Ya, aku terlalu lelah. Aku tertidur pulas walau fajar telah menyingsing. Walau Sang Bulan telah berucap selamat tinggal. Satu hal lagi, aku kehilanganmu. Ya, kehilangan waktumu. Kau tau, aku ingin bercerita banyak padamu, menceritakan keseharianku selama ini. Tapi, hatimu terasa jauh. Aku heran, kenapa aku belum bisa menceritakan segala hal padamu, Mungkin semua butuh proses, tapi..aku bukan baru pertama kali mengenal laki-laki, bahkan aku bisa bercerita apapun pada sahabat laki-laki ku. Mungkin karena aku merasa hanya aku yang bercerita? Sedangkan kau ...

before 90th days for you!

Berhadapan dengannya, Menatap matanya, Melihat senyumannya, Baru kali ini terbesit ternyata ia milikku sekarang. Seseorang yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya kini ada dihadapanku. Tersenyum padaku dengan tulusnya. Malam ini, malam perpisahan. Perpisahan singkat yang akan memupuk kerinduan yang mendalam karena ia akan pergi untuk beberapa lama, menyuguhkanku sekotak hubungan berjarak yang terpisah oleh lautan.

04.06.15

Tahun ini sedikit berbeda walau masih dengan orang yang sama,  Dengan kejutan yang hampir sama, Dan dengan kenangan yang kadang hilang timbul bersama. Tahun ini dua kejutan spesial dari yang terkasih datang menyambut hariku, Dua kejutan dari orang-orang yang peduli akan diriku, Dari mereka yang menghargai keberadaanku didunia ini. Terimakasih karena telah menjadi bagian dari hati ini, Terimakasih karena megisi hari-hari dihidup yang nyaris kelabu ini, Terimakasih karena senyuman diwajah kalian adalah obat yang takkan pernah bisa aku temukan belahan dunia manapun. Terimakasih untuk kalian yang membaca ini.

Ketakutan-ku

Seperti takut, Padahal Perdana Menteri telah melebarkan pintu, Memperlihatkan hamparan hijau nan indah, Bersama dirimu ditengah keindahannya. Namun, melangkah seperti takut, Entah karena pengawal tak lagi berjaga, Entah karena terlalu bahagia menghirup udara bebas, Entah karena Pangeranku terlihat seakan acuh. Jemput aku Pangeran, Putri ini terlalu lemah untuk berlari, Putri ini terlalu rapuh untuk menghampiri, Putri ini terlalu percaya bahwa Raja akan merestui. Walau cinta tak seabadi tulang dan denyut nadi, Walau cinta tak harus selalu memiliki, Hati ini tau, Jika Ia ingin bahagia, disitu lah dia menepi.

Andai...

Maafkan Bulan yang terlalu rapuh, Maafkan Bulan yang sinarnya tak begitu nyata dibanding Matahari, Walau Bulan dan Matahari berada di Langit yang sama, Walau Bulan dan Matahari secara damai bergantian. Namun, rasa itu tidak pernah hilang, Rasa ingin dilihat oleh beberapa pasang bola mata warna-warni di Bumi. Andai Bumi adalah tempat Sang Bulan berpijak, Akankah warna-warna itu menatapnya lebih dekat?

Prince of Beautiful Sky

Mungkin ya, mungkin juga tidak. Apabila berkata, aku akan dimaki. Apabila hanya diam, aku akan mati. Tenggelam dalam perasaan sepi, Tanpa Ia tau betapa aku mencinta sepenuh hati. Apa Ia tau? Apa Ia mengerti? Apa Ia benar-benar tau dan mengerti diri ini? Ah, mungkin hanya biasan cahaya matahari kala hujan reda. Pelangi yang hanya datang selepas langit menghitam. Aku bukan seorang pemimpi, Bukan juga seorang pengharap. Aku adalah seorang pembuat. Pembuat akan kesakitan diriku sendiri, Karena terus bermimpi dan berharap pada langit. Memanggilmu dengan "Pangeran Langit" Kadang membuatku lupa kalau langit memang tak mungkin digapai. Kalau langit tidak mungkin bisa menjamah bumi. Kalau langit ada untuk hanya sekedar dipandangi.

Sad Story

*music* This song reminds me of someone who hurts my feeling for the first time. He told me that I'm the prettiest girl he ever met, and I trusted him, like a lot. He always told me stuff that make me thinks that he likes me. My smile won't fade away when I'm with him. Every single word that he told me, make me feel like the world is mine. But, everything changed when he finally met a new girl. And of course, the girl is much more prettier that me, smarter than me. They started to get closer and closer when he started to ask her for a movie. He went with her. Then one morning, I was know it as the last person. I ask him for the truth. He says that he was in relationship with her. I broke into pieces that moment. Tell me, if you were me, will you feel the same?

Entah

Tiap langkahnya terasa menyakitkan, Menampar relung menampakkan kenyataan. Bingung. Galau. Bimbang. Maju? Mundur? Cantik? Hilangkah atau malah timbul? Pertanyaan ini, apa jawabnya? Ah sudahlah, mungkin lalu lintas padat sedang menyibakkan kenormalan yang ada.

DiTuhankan

Saat ketidakadilan yang Ia rasakan membengkak, Membunuh perlahan pada apa yang Ia pertahankan, Namun, tak satu orang pun dari mereka Para Petinggi Kerajaan yang mau melirik padanya, Tak pula rakyat jelata yang biasa menyuarakan benci dibalik selimutnya. Semua diam, Hening. Menelan getir rasa takut atas semua keputusan Sang Tuhan. Tuhan yang diTuhankan. Ia lalu berjalan mundur, perlahan menghilang dalam gelap, Tanpa ada yang menyadari kekecewaannya.

Takut

Saat hatinya mulai terobati akan senyumannya, Mulai sembuh dan pulih atas segala harapan bersamanya. Tiba-tiba saja kau datang menyapa, Melilitkan tali yang Ia tau akan susah untuk dilepaskan. Bukan tak ingin bersamamu, Hanya saja Ia telah merasa cukup. Cukup untuk tinggal dalam puing kesendirian selama bertahun-tahun. Trauma? Takut? Ya, mungkin semacam itu.

Pagi yang Kelabu

Untuk pagi yang kelabu, Selamat mendekam dibalik selimut, Menunggu sipir waktu mencambuk ragu, Tanpa secarik cahaya, tanpa segumpalan kabut. Untuk pagi yang kelabu, Maafkanlah mereka yang berpura acuh, Biarkan mereka menghilang bersama sendu, Tak pula aku kehilangan orang seperti itu. Untuk pagi yang kelabu, Titip rindu ku untuk Pahlawan ku.

Untuk Dirimu

Tersengat pertemuan menyalakan perasaan, Terketuk realita akan keadaan, Berpeluang pergi juga pula bertahan, Beringkar hati dapat temukan kebenaran. Bila bulan merasa iba, Bila bulan menemui sendu, Tak kala Ia mendua, Tak kala pula Ia meragu. Semakin malam semakin kelabu, Berbisik cinta dalam satu padu, Bersama rindu berpaut syahdu, Sang Bulan hadir untuk dirimu.