Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Sad Story

*music* This song reminds me of someone who hurts my feeling for the first time. He told me that I'm the prettiest girl he ever met, and I trusted him, like a lot. He always told me stuff that make me thinks that he likes me. My smile won't fade away when I'm with him. Every single word that he told me, make me feel like the world is mine. But, everything changed when he finally met a new girl. And of course, the girl is much more prettier that me, smarter than me. They started to get closer and closer when he started to ask her for a movie. He went with her. Then one morning, I was know it as the last person. I ask him for the truth. He says that he was in relationship with her. I broke into pieces that moment. Tell me, if you were me, will you feel the same?

Entah

Tiap langkahnya terasa menyakitkan, Menampar relung menampakkan kenyataan. Bingung. Galau. Bimbang. Maju? Mundur? Cantik? Hilangkah atau malah timbul? Pertanyaan ini, apa jawabnya? Ah sudahlah, mungkin lalu lintas padat sedang menyibakkan kenormalan yang ada.

DiTuhankan

Saat ketidakadilan yang Ia rasakan membengkak, Membunuh perlahan pada apa yang Ia pertahankan, Namun, tak satu orang pun dari mereka Para Petinggi Kerajaan yang mau melirik padanya, Tak pula rakyat jelata yang biasa menyuarakan benci dibalik selimutnya. Semua diam, Hening. Menelan getir rasa takut atas semua keputusan Sang Tuhan. Tuhan yang diTuhankan. Ia lalu berjalan mundur, perlahan menghilang dalam gelap, Tanpa ada yang menyadari kekecewaannya.

Takut

Saat hatinya mulai terobati akan senyumannya, Mulai sembuh dan pulih atas segala harapan bersamanya. Tiba-tiba saja kau datang menyapa, Melilitkan tali yang Ia tau akan susah untuk dilepaskan. Bukan tak ingin bersamamu, Hanya saja Ia telah merasa cukup. Cukup untuk tinggal dalam puing kesendirian selama bertahun-tahun. Trauma? Takut? Ya, mungkin semacam itu.

Pagi yang Kelabu

Untuk pagi yang kelabu, Selamat mendekam dibalik selimut, Menunggu sipir waktu mencambuk ragu, Tanpa secarik cahaya, tanpa segumpalan kabut. Untuk pagi yang kelabu, Maafkanlah mereka yang berpura acuh, Biarkan mereka menghilang bersama sendu, Tak pula aku kehilangan orang seperti itu. Untuk pagi yang kelabu, Titip rindu ku untuk Pahlawan ku.

Untuk Dirimu

Tersengat pertemuan menyalakan perasaan, Terketuk realita akan keadaan, Berpeluang pergi juga pula bertahan, Beringkar hati dapat temukan kebenaran. Bila bulan merasa iba, Bila bulan menemui sendu, Tak kala Ia mendua, Tak kala pula Ia meragu. Semakin malam semakin kelabu, Berbisik cinta dalam satu padu, Bersama rindu berpaut syahdu, Sang Bulan hadir untuk dirimu.