Postingan

Jumpa

Kita berjumpa lagi, Setelah membiarkan kerinduan semakin bertambah saat angka berganti. Kita menyapa lagi, Menatap satu pasang mata yang tidak pernah berani menampakkan kejujuran. Kita saling berbicara, Memberikan sisi terbaik kita saat ini untukmu yang pernah paling berharga. Tapi Kita...hanya angan-angan sejak dahulu, Menyudahi keindahan karena takut pedihnya berjuang. Memaksa melangkah menyambut hampa yang dulu kita kira lebih baik...dari sekedar bersama.

Aku

Akulah seorang paling egois.... memintamu menyendiri dalam kehampaan, saat aku bersemi diantara kehangatannya. Akulah seorang paling tak mau mengerti.... memberikanmu setitik harapan untuk merasakan lagi, padahal kau pun tau, aku takkan kembali. Akulah seorang paling ingin memilikimu.... dalam ingatan kehampaan yang dulu kita bangun, mencoba memperbaiki sedikit rasa yang tak pernah selesai.

Kembali

Baru saja diketuknya jendela usang berdebu rindu, Menerbangkan serpihannya yang kemudian jatuh diatas buku sebuah kisah sendu, Membawa pandangku pada halaman demi halaman yang terlupakan. Berhenti bisa pula berarti menerima, Atas ketidakmampuan Bulan yang merindukan Matahari. Atas prasangka yang tak lagi jadi misteri. Apakah harus mengungkap tanya pada benda yang hampir mati? Ataukah boleh hanya disimpan hingga butirannya menjadi abadi? Aku menantikan sesuatu yang tak lagi sama, Hanya karena telah kembali menemukan. Padahal senja kini tak indah lagi, Padahal 'beda' sudah jadi wajahnya. Hanya menarik sia-sia pada jejak hati penuh duri, Karena kembali berarti tidak sama lagi.

Tawa tanpa Suara

Dan kini aku tertawa dengan kaki yang melemas, Suara yang tak kunjung terdengar, Juga air mata yang hampir saja menetes. Mengetahui suatu hal yang bila dipertanyakan lebih dahulu, Aku pasti tak akan mau mengetahuinya. Namun, itu semua telah terjadi. Kenyataan pahit yang terpaksa aku telan bulat-bulat. Bukan tak ingin mencernanya, Tapi tak sanggup.

Bila nanti...

Bila nanti suatu saat, Seseorang menemukan orang yang tepat untuknya, Maka seseorang baru akan mulai mencari, Setelah berhenti memastikan. Bila nanti suatu saat, Tak seorang pun yang dinyatakan tepat, Maka seseorang akan menampakkan dirinya pada cahaya, Seakan membuka mata bahwa sosoknya selalu setia. Bila nanti suatu saat, Tak seorang pun dinyatakan tepat, Dan seseorang telah menemukan orang yang tepat terlebih dahulu, Maka takkan terjadi saat-saat itu. hanya semu.

I miss you..

Berkelit waktu menyapa rindu, Kadang aku ragu apakah ini rasaku, Atau sekedar khayal memaksa kalbu? Beberapa bulan belakangan ini rasanya jauh sekali, Padahal ia selalu dekat. Entah, mungkin hati kami tertutup sesuatu. Hingga akhirnya tak kuat menahan rindu. Setiap waktu bertemu tak mengobati apapun, Setiap saat tertawa tak mengisi ruang hampa dihati. Aku bertanya pada malam yang ku tinggalkan, Aku berpeluh pada sosok baru yang nyatanya tak ku inginkan. Memang tempat ternyaman tak akan tergantikan, Meski temui berbagai pelabuhan. Meski mencoba untuk merubah haluan. Tapi takdirku tetap pada Sang Bulan.

Jadi?

Aku rasa aku tidak salah dengar atau sekedar berkhayal saat dia bilang "tunggu! tan, tunggu!". Oh yah, sayangnya aku mengabaikannya dengan begitu mudah. Aku lebih fokus pada api yang berkobar dalam hatiku pada orang yang ada didepanku itu. Masalah kecil yang entah kenapa menumpuk terus-menerus hingga jadi masalah yang besar. Yang aku sendiri merasa tak sanggup untuk membereskannya. Kemarin. Hari ini aku sudah kembali jadi diriku yang biasanya. Meski beberapa hari lalu banyak sekali titik-titik noda yang hinggap dilembar kertasku. Kini sudah hilang semua. Dan entah bagaimana, aku menunggu esok. Aku ingin melihatnya lagi.