before 90th days for you!

Berhadapan dengannya,
Menatap matanya,
Melihat senyumannya,
Baru kali ini terbesit ternyata ia milikku sekarang.
Seseorang yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya kini ada dihadapanku.
Tersenyum padaku dengan tulusnya.

Malam ini, malam perpisahan.
Perpisahan singkat yang akan memupuk kerinduan yang mendalam karena ia akan pergi untuk beberapa lama, menyuguhkanku sekotak hubungan berjarak yang terpisah oleh lautan.


Ini masih bulan Ramadhan, rencana buka puasa bersamanya akhirnya terwujud untuk yang pertama dan terakhir kali ditahun ini. Sempat tadi ia melontarkan kata, "lebaran tahun depan main2lah kesana" kerumahnya maksudnya. Ya, bergabung bersama keluarga kecilnya. Aku membalas dengan senyuman yang tak nampak, malah kata ini yang terucap, "memangnya kita 'masih' sampai tahun depan?" Aku meliriknya sedikit dengan mata meledek. Ia dengan cepat membalas, "kok gitu ngomongnya?" 
Aku membela diri, "cuma nanya aja" 
Ia membalas, "ya aku juga cuma tanya kamu kenapa gitu ngomongnya" katanya dengan lembut seperti biasanya. 
Aku menjawabnya dengan, "yaa gapapa, kamu kan bisa jawab iya atau engga" 
Dia berbisik pelan, "yaa insyallah masih" 
Dan lagi, aku tersenyum namun tidak akan pernah terlihat olehnya.
Aku melihat padanya, berkata dengan penuh senyum, "yaa kalau masih jadi aku mau kesana, kan ga ada yang tau kedepannya gimana, aku ga bisa janji ke kamu" 
Dia membalas dengan senyuman juga tanpa berkata.
"Aku mau kok lebaran disana, aku pengen juga kesana" tambahku.
"Yaa, nanti kalo kesana aku belikan makanan kesukaanmu sebanyak satu ton, supaya kamu bisa tiduran diatasnya haha"
Dia tertawa.
Manis.
Aku suka saat dia tertawa.
Mungkin aku tak terlihat seperti ikut tertawa bersamanya, tapi aku merasa bahagia.



Dia selalu makan dengan porsi besar, 'pemakan segala yang tawanya aku suka'.
Aku bukan tipe perempuan diet dan sebagainya, tapi nafsu makanku hilang jika makan bersamanya, mungkin karena aku melihatnya makan terlalu banyak sehingga terbawa suasana merasa kenyang, atau karena aku masih jaim? Entahlah. Tadi saja aku tidak memakan nasiku, hanya ayam crispy yang hampir alot dan tidak ada rasanya itu saja yang ku paksa masuk melewati tenggorokkanku.
Dia tidak menanyakannya seperti sebelumnya, dia hanya menyeka makanan yang berpencar disekitar bibirku atau yang sekedar terhempas dilengan bajuku.
Mungkin dia tau kalau aku sedang tidak selera makan.
Ya, aku tidak selera makan mengingat setelah ini aku harus terpisah jarak olehnya. Dekat saja sulit untuk bertemu, apalagi jauh. 


Ia mengatakan "sampai bertemu lagi" dan sukses membuatku membendung air mata dibalik kedua bola mataku.
Inilah mengapa aku membenci berekspresi, karena kadang yang tersalurkan hanyalah yang sedih saja, tidak seperti saat aku merasa senang atau lainnya.
Mungkin karena aku lebih fasih dalam mengungkapkan kesedihan diri sendiri ketimbang menyampaikan kebahagiaan yang agaknya sedikit bersembunyi ditahun lalu yang masih menghantui hingga tahun ini.

Aku takut, takut dia melupakanku. Aku mengatakannya, dan dia menyangka aku berpikir negatif tentangnya, bukan..bukan itu. Hanya saja apa yang aku inginkan belum terpenuhi, hal kecil yang bisa berdampak besar untuk diriku. 
Tak apa, mungkin mengungkapkan beberapa hal dengan maksud berbagi cerita malah membuatmu menjadi merubah segalanya agar hajat ku terpenuhi, terimakasih. Tapi bukan itu mauku. Hanya ikuti alur seperti yang kita rencanakan, aku tidak bisa dengan cepat berubah haluan seperti itu, akan ada rasa janggal disini. Dan membuatku tak bersemangat melakukan apapun.
Perpisahan singkat ini semoga membuatku lupa akan jauhnya dirimu disana.


Tapi dari sini, dari hari ini aku akan mulai merindukanmu.
Sapaan hangat.
Sentuhan tangan.
Senyummu.
Dan semuanya.


90th days for you, 
itulah judul yang akan aku tulis setiap harinya, setiap aku merindukanmu.



Salam rindu.

Komentar