Tak Mampu
Sekiranya berpikir kalau aku mampu untuk mengerti dirinya,
Mencoba untuk memahaminya lebih dari apa yang pernah aku lakukan.
Namun apa daya?
Aku tetaplah aku, manusia dengan tingkat keegoisan tinggi yang takkan mau kalah oleh hal apapun.
Perasaan ini selalu muncul kala dia mengabaikanku bila sedang bersama dengan teman bermainnya,
Dimana aku hanyalah seonggok bambu yang hanya bisa diam menunggu ditebang dna dijadikan sari tebu.
Bukan maksud tak ingin berinisiatif, hanya saja...semua percuma. karena dia tidak akan pernah meresponnya.
Hanya kepahitan dalam senyap yang aku rasa.
Mengagumi dia seperti aku baru pertama kali menemukan sosok laki-laki yang sempurna.
yang kenyataannya terlalu sempurna hingga aku tak mampu bertahan dengan kesepmurnaannya itu.
Ingin rasa hati mengungkapkan semua yang aku rasakan padanya.
Namun tertahan oleh logika yang mengatakan kalau dia hanya akan terlihat mengerti.
Bukan benar-benar mengerti.
Dia hanya akan menjawab apa yang ingin aku dengar, bukan apa yang ingin dia katakan.
Rasanya sesak, sesal, dan muak.
Harus terjepit dalam rongga-rongga penghianatan dalam kepercayaan.
Ketika aku memberikan segala pengabdianku hanya untuknya seorang.
Dia dapat duduk manis tanpa memikirkan apa-apa,
Tanpa rasa takut kalau-kalau aku akan berpaling darinya.
Ya, dia tau itu.
Dia tau bagaimana cara membuat aku bertahan bersamanya.
Tapi aku tidak tau cara agar dia mau menahanku.
Mendapati dirinya tengah bersenang-senang diatas penungguanku yang tak berujung,
Membuat aku membenci ketidaktegasan diri ini.
Membuat aku merasa seprti sampah yang menunggu seseorang memungutku sebentar lalu Membuangku ditempat dimana seharusnya aku berada.
Begitukah cinta?
Kini aku mulai mempertanyakan keindahan yang mereka katakan,
Dimana keadilan berbagi kasih sayang?
Dimana aku bisa menemukan orang yang akan menjaga dan mengasihiku layaknya wanita yang patut dicintai?
Dimana hatimu saat aku memberikan hatiku untukmu?
Apa yang kau beri setelah aku memberi segala hati dan kepercayaanku padamu?
Kekecewaan. Ya, kekecewaan yang mampu kau berikan.
Membuatku kecewa setelah berharap pada janji-janji manis yang selalu kau umbar dengan berbagai cara agar aku terjerat.
Meski aku berkata aku takkan menunggumu, kau tau dimana letak kebenaran itu bukan?
Lalu, kenapa kau masih saja membuatku berharap pada orang yang tak seharusnya diharapkan?
Mengapa harus datang lagi, disaat hujan telah reda?
Apa selalu seperti itu?
Dimana dirimu adalah gabungan dari embun hujan yang terbias oleh cahaya.
Sedangkan aku?
Aku hanyalah sebuah buku dengan kertas usang yang telah tercabik-cabik dalam gelap dan kesunyian.
Harus pergi, walaupun tak ingin.
Mencoba untuk memahaminya lebih dari apa yang pernah aku lakukan.
Namun apa daya?
Aku tetaplah aku, manusia dengan tingkat keegoisan tinggi yang takkan mau kalah oleh hal apapun.
Perasaan ini selalu muncul kala dia mengabaikanku bila sedang bersama dengan teman bermainnya,
Dimana aku hanyalah seonggok bambu yang hanya bisa diam menunggu ditebang dna dijadikan sari tebu.
Bukan maksud tak ingin berinisiatif, hanya saja...semua percuma. karena dia tidak akan pernah meresponnya.
Hanya kepahitan dalam senyap yang aku rasa.
Mengagumi dia seperti aku baru pertama kali menemukan sosok laki-laki yang sempurna.
yang kenyataannya terlalu sempurna hingga aku tak mampu bertahan dengan kesepmurnaannya itu.
Ingin rasa hati mengungkapkan semua yang aku rasakan padanya.
Namun tertahan oleh logika yang mengatakan kalau dia hanya akan terlihat mengerti.
Bukan benar-benar mengerti.
Dia hanya akan menjawab apa yang ingin aku dengar, bukan apa yang ingin dia katakan.
Rasanya sesak, sesal, dan muak.
Harus terjepit dalam rongga-rongga penghianatan dalam kepercayaan.
Ketika aku memberikan segala pengabdianku hanya untuknya seorang.
Dia dapat duduk manis tanpa memikirkan apa-apa,
Tanpa rasa takut kalau-kalau aku akan berpaling darinya.
Ya, dia tau itu.
Dia tau bagaimana cara membuat aku bertahan bersamanya.
Tapi aku tidak tau cara agar dia mau menahanku.
Mendapati dirinya tengah bersenang-senang diatas penungguanku yang tak berujung,
Membuat aku membenci ketidaktegasan diri ini.
Membuat aku merasa seprti sampah yang menunggu seseorang memungutku sebentar lalu Membuangku ditempat dimana seharusnya aku berada.
Begitukah cinta?
Kini aku mulai mempertanyakan keindahan yang mereka katakan,
Dimana keadilan berbagi kasih sayang?
Dimana aku bisa menemukan orang yang akan menjaga dan mengasihiku layaknya wanita yang patut dicintai?
Dimana hatimu saat aku memberikan hatiku untukmu?
Apa yang kau beri setelah aku memberi segala hati dan kepercayaanku padamu?
Kekecewaan. Ya, kekecewaan yang mampu kau berikan.
Membuatku kecewa setelah berharap pada janji-janji manis yang selalu kau umbar dengan berbagai cara agar aku terjerat.
Meski aku berkata aku takkan menunggumu, kau tau dimana letak kebenaran itu bukan?
Lalu, kenapa kau masih saja membuatku berharap pada orang yang tak seharusnya diharapkan?
Mengapa harus datang lagi, disaat hujan telah reda?
Apa selalu seperti itu?
Dimana dirimu adalah gabungan dari embun hujan yang terbias oleh cahaya.
Sedangkan aku?
Aku hanyalah sebuah buku dengan kertas usang yang telah tercabik-cabik dalam gelap dan kesunyian.
Harus pergi, walaupun tak ingin.
Komentar
Posting Komentar